Kamis, 06 Mei 2010

GÊDRIG

Gêdrig? Apa pula itu! Itu adalah kosa kata bahasa Jawa mengenai gaya tulisan dengan huruf tegak seperti yang tengah dibaca ini. Bukan huruf miring atau italic, juga bukan huruf sambung atau script. Saya ingin mengajak sejenak dengan ceritera lama. Suatu retro, tentang sekilas masa pembelajaran tempo doeloe; namun masih ada “garis yang jelas dengan masa kini ke depan”. Hampir pasti, tidak akan semenarik ceritera sinetron, ataupun selebriti yang kehidupannya mengalami on and off.

Mari kita mulai! Barangkali, kita pernah mengisi jawaban dan atau isian pada suatu formulir. Seringkali ada keterangan : Harap diisi dengan huruf cetak. Maksudnya adalah, agar kita menulis – tentu saja dengan tangan – pada kolomkolom dan atau bagian yang perlu diberi keterangan dengan dengan huruf yang tegak, tidak bergandengan, layaknya huruf yang kita baca pada hasil cetakan pada umumnya.

Kamis, 14 Januari 2010

PATRA MÊNGGALA

Saya suka duduk di atas lincak, menghadap ke timur dibawah pohon Patra Mênggala. Patra Mênggala? Di Tinggarwangi dulu saya mengenal dengan nama itu. Semula saya menduga, mungkin penanam pertama atau yang memperkenalkan tanaman tersebut di Tinggarwangi adalah Ki Patramenggala. Orang Jakarta menyebut bunga merak. Sengaja saya tanam untuk mengganti pohon blimbing, agar ada sedikit kenangan dengan rumah masa kecil di desa, yang juga mempunyai pohon serupa. Posisi tanam juga mirip: bagian depan rumah agak sebelah kanan. Bibitnya berupa biji seperti kêmlandingan atau lamtoro, tetapi lebih besar, memang dibawa oleh adik saya dari desa. Berdaun kecil-kecil, rontokkannya mudah membentuk sampah di bawah pohon. Di beberapa tempat tepian jalan tol luar kota terkadang dapat dijumpai pohon berbunga merah atau kuning itu.

Patra Mênggala (bunga merak) ini mempunyai nama Latin Caesalpinia pulcherima.  Meski tinggi pohon di depan rumah sudah sekitar 3 meter tingginya, tetap disebut kembang. Karena yang menonjol ya bunganya itu. Nggak peduli musim hujan ataupun kemarau, tetap berbunga. Lingkup masyarakat dimana saya tinggal, pada tahun pertama tidak ada yang punya. Katanya: “Cakep ya Pak, bunga apaan sih namanya? Émang beli dimané! – Katanya sih, namanya bunga merak. Kalau di desa saya menyebut bunga Patra Mênggala. Nggak beli kok. Saya pesen benihnya dari desa, dibawain bijinya sama adik saya.” Singkatnya, saya ndhêdhêr biji-bijinya, setelah tumbuh sekitar 50 cm saya berbagi.

Tatkala berselancar di internet, ketemu juga hal-ihwal nama bunga yang bertahun-tahun mengingatkan desa kelahiran. O, memang betul namanya Patra Mênggala. Nama bunga merak saja merak saja, setelah tumbuhan itu menghias halaman rumah. Terima kasih kepada pengola blog sayangbungaku.blogspot.com Saya jadi tahu nama Latin-nya: Caesalpinia pulcherima. Silakan kunjungi. Bagus, kok! Juga ada keterangan manfaatnya. Memang tentang bunga, tetapi ditulis oleh ahlinya. Priyantun sekolahan. Matur nuwun. Saya memang termasuk nggak faham babagan botani. Kulitnya sekalipun. Ngêrtiné nyawang kêmbang.

PERSEPSI VISUAL (3) - Klasifikasi Visual

Jika diamati, ada empat klasifikasi visual yakni: (1) wujud nyata, (2) wujud setengah nyata, (3) gambar yang nyata, dan (4) gambar simbol. Dari empat klasifikasi termaksud, baik sendiri-sendiri maupun gabungan, sangat membantu proses pembelajaran. Istilah pembelajaran disini, tidak hanya mengacu pada proses belajar mengajar di sekolah, tetapi tiap upaya seseorang untuk memahami sesuatu dari luar dirinya.

1. Wujud nyata
Kita dapat mengamati dan mengenali sesuatu karena melihat wujud nyata (actual reality). Dapat diamati dan dapat disentuh. Pada wujud yang nyata, sese­orang dapat mengamati dimen­si, ukuran, warna, teksture serta kepadatan. De­ngan mengamati secara visual, pengertian dapat bertambah pada sesuatu yang berkaitan dengan benda termaksud; misalnya rasa (taste) dan bau (smell).

Para orang tua mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya dengan memperkenalkan sesuatu secara nyata. Benda-benda yang nyata dalam keseharian dikenalkan dan diamati. Pengenalan, contoh kegiatan yang nyata disertai petunjuk. Sing arané dhingklik, kuwé nggo njagong. Ora nggo thingkrang. Sikilmu aja déuanggahna nêng méja. Penjelasan maupun perintah lisan dilakukan untuk mengkontrol proses penalaran.

Rabu, 13 Januari 2010

PERSEPSI VISUAL (2) - Verbal dan Audio

Pada Persepsi Visual bagian 1, saya mengambil contoh ceritera tentang becak, yang diucapkan secara lisan atau verbal. Relatif, setiap hari kita berbicara pa­da orang lain dengan ungkapan-ungkapan verbal. Ungkapan yang verbal, terucapkan seba­gai sim­bol bunyi yang sifatnya terdengar atau audible dan tertang­kap dengan indra pendengar. Orang yang tuna wicara juga “berbicara” pada orang lain; bukan verbal melainkan dengan bahasa isyarat ragawi atau gesture, atau simbol-simbol yang dimengerti pihak yang diajak berkomunikasi. Misalnya dengan tulisan. (Jika ada waktu, saya ingin berbagi pula tentang aksara sebagai simbol bunyi, desain aksara, tipografi dan beberapa pengalaman terkait. Dongakna ya, inyong tansah pinaringan waras. Mèn bisa berbagi dongèng.) Kembali tentang si tuna wicara. Tidak mustahil, dalam benak yang bersangkutan (si tuna wicara itu) sudah tersusun informasi yang tertata. Namun keluarnya dalam “ucapan” hanya hah, hih. huh yang tidak difahami lawan bicaranya. Ada perbedaan referensi, sehingga sering tidak nyambung secara utuh.

Meskipun suatu pesan verbal, dalam hal ini bila kita melakukan pembicaraan dengan seseorang, maka akan terdengar keras dan lembutnya suara, jelas atau nggranyêm, tekanan pada kata tertentu ataukah datar. Terlihat juga siapa yang berbicara, dan roman mukanya. Berarti ada gabungan verbal dan visual. Intinya, ada simbol-simbol yang mem­beri watak dalam proses komunikasi.

Dewasa ini semakin banyak para pengajar dan pelatih yang menggunakan sarana bantu audio maupun visual untuk mendu­kung proses belajar mengajar. Dalam pelajaran bahasa, dimana pe­ma­haman menyangkut mendengar, meng­ucap­kan, membaca dan menulis, membutuhkan ukuran baku sesuai bidang pelajarannya.

PERSEPSI VISUAL (1)

Buat warga IKSA : Uraian berikut adalah catatan ringkas tentang persepsi visual yang telah lama terselip dan belum dipublikasikan. Ternyata ada anggota keluarga yang ngonangi, dan menya-rankan: Masukkan sebagai isi blog untuk berbagi terutama buat anak-anak IKSA. Kan ada nilai historisnya. Semula dicoba menjadi satu naskah; tetapi karena kendala memori dan arus transmisi sinyal, dipotong jadi tiga bagian. Biar tidak lambat. Bagian pertama adalah awal dongeng. Bagian kedua tentang persepsi verbal dan visual. Bagian ketiga berisi klasifikasi visual. Jika ada uraian yang tidak pas dan kurang berkenan, itulah perlunya kita bertukar pendapat agar blog ini tidak cuma isi berita keluarga yang monochrome. Cobalah gunakan bahasa Jawa gaya Banyumasan. Kalau kehabisan kosa kata dan kesulitan tata bahasa, ya gunakan campuran dulu. Bagaimana? - Tu Ds.

Kita awali dari Tinggarwangi tahun 50-an ...
Menjelang senja, Bapak pulang setelah bepergian beberapa hari ke Semarang. Saya senang. Orang-orang serumah semua senang. Rasa senang mBoké lebih terungkap dari lèhé éwuh ngladosi keperluan Bapak yang rawuh sumringah. Mungkin juga sayah, tapi tak terlihat. Saya ikut ngrubung olih-olih tanpa rikuh terdorong rasa ingin tahu, antara lain : buntêlan roti. Di Tinggarwangi belum ada yang jual. Dan ternyata, roti itu enaknya luar biasa!.

Kejadian nyaris setengah abad yang lampau, masih segar dalam ingatan. Kaya nêmbé tahun mbêkana. Tetapi, ceritera dan kosa kata, baru sebagai bagian oleh-oleh beliau, masih teringat. Beliau ke Semarang untuk urusan berobat mata dan memesan kaca mata. Beliau ngagêm kaca tingal. Saya tidak boleh menyebut bêlor. Bêlor itu juga kaca mata, tetapi yang biasa dipakai oleh pemain ébèg atau kuda lumping. Kacanya hitam. Biar berpanas-panas, rasanya sejuk.

Semarang? Dimanakah itu? Prênahé jéré wétan lor, adoh pisan. Ora paham. Waktu itu, saya masih dalam kelompok bocah cilik alias walad dzohir (kosa kata ini karena sudah ketularan orang Pemalang). Belum mendapat pelajaran Ilmu Bumi. Penger­tiannya, wétan anané mung sawah dawa, terus ngidul butul warungé nini Bar Margasana; ngétan têrus lêmpêng, mêngko ana sawah maning. Lor désa, adoh ngkana ana gunung Slamêt. Sisih kidul, ana Jatilawang karo Adisara, terus menganah maning, butul Karang Lêwas dalêmé éyang Pênatus. Kidul wétan ana Karang­anyar, nggon grabah; umahé paman Walir. Anggêr sing Karang­anyar ngidul teruuuuus, batiré inyong ngomong ana sêgara kidul. Segara kuwé apa? mBuh, wong jéré banyuné kimplah-kimplah, nglêwihi kali Tajum blabur, utawa sawah wétan sing nganti ora katon galêngané mêrga udané ora man­dhêg-mandhêg. Sêkang pasar Kulon, anggêr ngalor jéré butul Kali Sadhang nganti Purajati, ning urung tau ngambah. Anggêr tung dalan sing mêngulon, butul Kali Bacin, sisih nduwuré ana kuburan Cina. Sakuloné maning mbuh désa apa arané. Daerah jelajah eksklusif bagian barat, selain Kali Bacin, baru sam­pai Ciparuk ikut Yu Maryati tilik uwané.

Selasa, 12 Januari 2010

BRUDERAN (3) - Bruder Jos

“Beneath the little west window, lay a child about ten years old ..... “ Itulah kalimat yang mengawali paragraf pertama Chapter I buku A Child with out a Name yang harus dihafalkan. Buku fiksi ukuran saku, yang dibagi-pinjamkan oleh Bruder Jos. Saya tidak ingat nama pengarang dan penerbitnya. Beliau menjelaskan dengan rinci latar belakang kultur dan suasana deskripsi ceritera, termasuk etimologi istilah yang ada. Dengan gaya teater yang menguasai blocking panggung, dicontohkan membaca halaman pertama itu dengan intonasi British-nya. Semua menyimak “aktor” yang memang ganteng juga sih ...

Ujung-ujungnya, jadi PR. Semua murid, satu persatu harus maju ke depan kelas, mengucapkan isi halaman pertama buku itu dengan benar. Jika seseorang menghafal dengan benar maka dia “dilantik jadi King ... “. Ternyata masih banyak yang cuma jadi punggawa ... Selain sebagai Kepala Sekolah, beliau mengajar bahasa Inggris bidang Comprehension. Bidang grammar pengajarnya Miss Tjoa.

Minggu, 10 Januari 2010

BRUDERAN (2) - Bruder Aëtius

Doeloe, kalau orang bilang: SMA bagian apa? Saya jawab : bagian A (bahasa dan budaya)! Ada seraut wajah reaksi yang tidak mantep. Lain lagi kalau disebut bagian B (pasti alam), maka senyum segera tersungging. Mungkin juga ditambah sedikit anggukan. Sekarang pembagian A, B dan C tidak berlaku lagi. Sebutan SMA pun tidak lagi dipakai; yang ada SMU (Sekolah Menengah Umum). Apa ada yang tidak umum? Doeloe juga, kalau teman dan saudara saya bilang: dimana? Bruderan. Maka leher mereka sedikit naik: O ya? Ada gesture yang berbeda!

Di SMP saya masuk di bagian A, jadi kalau masuk SMA ke bagian A, ya sudah sewajarnya. Anehnya, begitu kerja, banyak masalah teknologi komunikasi. Teman-teman mengatakan : kaya nggo jambalan. Artikan kata jambalan sebagai mana digunakan oleh saudara-saudara kita dari daerah Banyumas. Sampai-sampai sahabat saya Hiromasa Akimoto, dan Nakamura dari Sony Corp. Jepang dalam kebersamaan kegiatan pernah nyeletuk: Turipto-san, are you engineer? Wélèh, wélèh, insinyur apaan. Wong nggulung coaxial cable, baé ndêlêngna koh, karo takon : dénèng kudu kaya kuwé? Dadi, ora asal nggulung yaa ... Aplikasi teknis, sistem konfigurasi dan sejenisnya dimengerti karena bahasa yang dasarnya diperoleh dari bruder Jos, bruder Aëtius, Miss Tjoa, dan pengajar lain di Bruderan. (Ora tau nduwé dhuwit nggo kursus ini itu).

BRUDERAN (1) – Préjèngan

Dik Ripto aslinya mana? (Maksudnya: daerah ataupun kota kelahiran saya.) - Purwokerto, Pak! Jatilawang. Mau menyebut desa Gentawangi beliau belum tentu faham. Jadi saya sebut nama kota kemungkinan besar dikenal. Lha, beliau itu dosen di UI yang bertugas juga sebagai konsultan di tempat saya “nyangkul” alias kerja. Jelas kedudukannya lebih tinggi. - Lho, saya juga, kok! SMA-nya dimana? - Bruderan, Pak! - O, lha préjèngané katon!. (Beliau tertawa, saya ikut tertawa). Beliau langsung menuju ruang rapat. Dialog sekilas itu, sekitar seperempat abad yang lampau. Jadul ya? Karena saya tulis sekarang, ya nêmên.

Saya tidak tahu persis padanan kata préjèngan dalam bahasa Indonesia. Gaya, penampilan, sikap dan pola pikir? Ah, sudahlah kalian cari tahu sendiri. Karena yang ingin saya tulis bukan masalah préjèngan. Melainkan tentang awal diterima di sekolah Bruderan Purwokerto. Ceritera gaya masa kini dengan hati masa lalu. Sêkalané kémutan. Pada masa itu, dan mungkin juga sekarang dikenal sebagai sekolah yang, ya itu tadi : préjèngan katon! Bagi anak Tinggarwangi saat itu sangat langka! Kata orang sekolah ini ada kesamaan ”nafas” dengan Kanisius, de Brito, Tarakanita dan sejenisnya. Tentu saja, nafas sekolahan tidak harus sama sebangun dengan murid-muridnya.

Jika kalian merambah di internet dengan kata : bruderan, purwokerto maka akan muncul begitu banyak laman. Bisa-bisa membuat saya kecut rasanya melihat begitu banyak yang sudah meraih sukses kehidupan. Nama-nama yang tidak saya kenal, dan saya bukan apa-apa. Saya mencoba mencari data tahun kelulusan 1962, harap-harap masih menjumpai nama teman yang saya ingat. Hasilnya (masih) nihil. Sadar, sudah menjadi orang jadul. Kobêr-kobêré berselancar di jagad maya. Iya yaah!

Sabtu, 28 November 2009

ANGGODO

Anggodo ? Lho, blog IKSA menulis Anggodo? Kok masuk ke ranah "breaking news"? Eit, ntar dulu. Kalian mengenal dan atau mendengar sebutan anggodo dari mana? Apakah karena mendengar begitu riuhnya berita tentang kpk-polri-kejaksaan-dpr-komisi 8, nimbrung di facebook, atau sumber-sumber lain yang mungkin layak dipercaya?

Bagi, warga IKSA mungkin seluruhnya sama. Bagi kalangan yang relatif tua dan masuk kategori senior citizenship, mungkin ada dua perkara. Pertama perkara yang menjadi berita terkini. Kedua, menyangkut nama yang keren. Kok keren? Sebutan Anggodo mengingatkan pada tokoh dalam dunia wayang yang hebat, ditulis juga Anggada. Huruf a miring (italic) dibaca seperti "o" tapi ringan. Mengingatkan pada Subali, Sugriwa, Anoman, Anila serta entah berapa banyak tokoh serta bala tentara wanara (monyet) lain.

Selasa, 27 Oktober 2009

CHECK AND RECHECK

Check and recheck. Ini bukan Cek & Ricek tentang acara celoteh di televisi, tetapi tentang IKSA. Dalam catatan saya, ada 19 (sembilas belas) keluarga warga IKSA yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya. Meliputi berapa jiwa? Belum tahu. Kok bisa? Itulah! Kalau saya jadi kepala desa, - sesuai dengan kedudukannya - tentu bisa "memerintahkan" perangkat desa sampai ketua RT untuk mendata. Apalagi "desa atau kelurahan" nya meliputi se-Jabodetabek! Desa mana yang seluas itu! Laah, apa nggak "lapor", atau ber-"halo-halo"? Hush, jangan keras-keras! nTar ada yang merasa nggak enak. Dirasanin, baru tahu kamu!

Acara hal bil halal berlangsung dengan lancar, selamat. Namanya halal bil halal, ya mengusahakan yang masih haram (kesalahan, kekeliruan), dengan ketulusan dan kerohiman, insya Allah memperoleh ridho-Nya menjadi halal (dimaafkan). mBah Hj. Chamdiah (Ibu/mBak Aam) sebagai ibu suri atau ibu sêpuh yang mêngku gawé. Yang nduwé gawé, keluarga Mustofa (Sari Wulandari) dengan segenap jajaran adik dan kemenakannya. Komplit.

Selasa, 20 Oktober 2009

ADI KUNTORO AJI

Setelah sekian lama, akhirnya datang juga, itu data. keluarga ADI KUNTORO AJI telah mengirimkan data yang terbaru. Terima kasih. Dulu cuma nama (halaman kiri), kini secara mengejutkan mengokupasi satu halaman sendiri. Rupanya kurang puas kalau namanya (hal. kiri)cuma "bergantungan" ... Bagaimana pun, terimakasih atas upayanya. Semoga yang lain tidak usah merasa dikejar. Karena datanya akan lari mendekat.

Saya tidak bosan-bosan mengingatkan, bagi yang belum, tolong sempatkan. Untuk keperluan keluarga besar IKSA, kini dan masa mendatang. Data yang diperlukan sangat sederhana. Bukan rahasia pribadi, bukan rahasia keluarga. Hanyalah:

(1) Nama orang tua (bapak dan ibu).
(2) Nama lengkap maupun pribadi pasangannya, disertai tanggal dan tempat lahir.

IRAH-IRAHAN

Irah-irahan artinya judul atau header. Sêkalané Kémutan adalah judul blog. Kemunculan pertama desainnya dominan warna biru, mèn bisa mumbul maring langit. Jêbulé nêng langit ora nana apa-apa. Suwung. Lah sing akè-akèh mung padha nyawang. Anggêr jagad tah isiné pirang-pirang. Eh, mbok mênawa wis mandan bosên karo biru, njajal déowahi warna liyanê. Dominan hitam. Mandan pêtêng, ningèn tulisane gênah. Putih. Ana abangé mèn mandan mbranang. Anggêr wis ora cocog ya, ganti maning. Gawé dhéwèk ikih. Ora tuku, ora mbayar.

Umpamané ko takon: Mengapa kalimat IKATAN KELUARGA SUDIWAN ATMOSUMARTO tidak disertakan? Golihé takon nganggo basa Indonesia, mêrga ora paham basa Jawa Banyumasan. Ngoko baé ora téyèng, apa maning krama, gêdhéné krama inggil. Laah ... Inyong sêmauré kaya kiyé :

(Bahasa Indonesia, biar kalian jelas) Kalimat termaksud tidak perlu ditonjolkan, karena sudah terwakili logo IKSA. Tuh, di sebelah kiri. Kalau kalimat IKATAN KELUARGA SUDIWAN ATMOSUMARTO masih disertakan, berarti ada duplikasi, yang secara desain terlalu penuh. Jangan serakah, semuanya mau masuk. Sedangkan tulisan Jawa (Hanacaraka) disertakan, katanya sih sebagai pengingat bahwa kita berangkat dari suatu kultur tertentu, dalam wadah NKRI, gitu. Jika kalian tidak faham, anggap saja itu bagian dari ornamen desain, warna merah, ingat moral dan etika kultur, tetap mempunyai semangat juang yang egaliter. Begitu lho !

Selasa, 13 Oktober 2009

Ketemu Yuk!

Acara Halal bil Halal keluarga IKSA Jakarta akan diselenggarakan di Matraman. Kel. Mustofa (7.1. Sari Wulandari) mengharap kehadiran seluruh warga IKSA Jakarta dan sekitarnya untuk berkumpul di kediaman Ibu Aam (Matraman) dalam rangka Halal bil Halal. Rencana, insya Allah dilaksanakan hari Minggu tanggal 25 Oktober 2009. Beritahu dan ajak warga IKSA, secara berantai atau langsung. Konfirmasi diperoleh dari 7.1. Sari Wulandari 13 Oktober 2009 14:22. Be there ...

Catatan : Bagi anggauta keluarga yang perlu memperbaharui data keluarga, ada baiknya menyiapkan catatan seperlunya. Berisi nama lengkap, tempat dan tanggal lahirnya. Foto (jika mungkin) lebih baik. Siapa tahu ada juga yang bawa kamera, boleh doong . . . dibawa. Semoga punya waktu yang cukup, lancar dan selamat!

Sabtu, 19 September 2009

RÈNDRA WIDYATAMA

RÈNDRA WIDYATAMA (6.3) memperbaharui data untuk Buku Keluarga Sudiwan Atmosumarto, edisi ke 3. The small and happy family. Data-data yang lebih rinci ada pada redaktur Buku Keluarga (saat ini). Kalau dimasukkan semua, bisa waah, bisa over pages. Terimakasih banyak atas atensi, dan partisipasinya. Gambarnya keren, kok. Jangan-jangan mahasiswanya yang disuruh motret. Saya cuma sedikiiiit fill-in re-touch, kok. (Lah, mana gambar dan data terbaru mas-mu 6.2 Teguh sekeluarga?)

Dalam lima bulan terakhir baru masuk tiga data baru. Dan itu masih sangat sedikit jika dihitung jumlah warga IKSA. Dan, saya akan lebih senang jika ada kontribusi gagasan dan atau pendapat buat iksa lewat blog ini. Tentu, tidak se-serius buku, Yang simple dan sedikiiit saja. Fungsi blog, kan gitu, katanya. Kalau cari pertemanan, pakai facebook.

Kira-kira sih, sehabis ber-Lebaran di Jatilawang atau Ngawi, mesti menengok Anthuriumnya. Kalau Sansevieria rasanya masih tidak mengkhawatirkan, wong tahan kering kok. Selamat Idul Fitri. Maaf Lahir Batin. Muga padha rahayu kang tinêmu. – Tu Ds.

Jumat, 18 September 2009

(Menjelang) BADA

Bada seringkali membawa berbagai rasa bagi kita. Ada yang bersuka cita, suntrut, hingar bingar, sumringah, haru, syukur dan seterusnya. Suasana dan emosi berbaur, menyelimuti gebyar lebaran. Berikut ini, sekelumit kilas balik menjelang hari raya Idul Fitri, dekade 50-60 an di Tinggarwangi, masa-masa Eyang kalian masih sugêng. Apa itu sugêng? Sugêng artinya hidup. Kosa kata tersebut digunakan merujuk pada seseorang secara lebih hormat.

Sebutan bada (ba’da) yang artinya usai. Lêbaran, suasana usai selepas suatu momentum. Wis lêbar, sudah usai. Usai menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Banyak sekali ragam tafsir tentang puasa Ramadhan. Saya tidak membicarakan pengertian atas kosa kata termaksud, melainkan ingin menggambarkan secara “feature” suasana pada dekade lampau di desa.

Cobalah simak, dialog imajiner ini : - Kaé ayamé décancang. Têlu-têluné, sing égin déré. Sing blorok tah ora susah, wong lagi ngêndhog . . . Sisan gawé, si Warti déwêling, golihé bruwun sing mandan akèh. Anggêr katoné kurang, ngésuk-ésuk ya mélu bécèr nêng pasar kulon. Aja kawanên! . . . - Karo bibine baé laah! - Aja kaya kuwé . . . Bibiné karo mbêkayumu gênah lagi éwuh gawé kêtan karo ampyang. Malah ana sing jéré kêpéngin njajal gawé lêmpêr. Urung thik-thêk liyané. Lha, ko, anggêr bali ngréwangi nggawa bécèran, nata-nata sing arêp dégawé diyan kurung. - Lha klambiné inyong kapan dadiné? - Ora usah mikir dhingin. Mêngko awan tuli déjujugna. Wong lagi ora wuda ikih . . . (Busyeeet) - Uuh, lah mêngko anggêr ... - Giyèh, aja kaya kuwé! Bada ora kêna bada-budu . . .

Kamis, 17 September 2009

WARA-WARA

Wah ! Rame juga itu main tebak tanggal 30 di e-mail. Ada baiknya Dika dan Citra bikin klarifikasi, biar nggak main tebak! Wujudnya: wara-wara, announcement, invitation atau apapun namanya biar kita bisa ikut hepi.Setidaknya tidak lagi ada Trio Eko. Tapi bisa jadi Quatro Eko. Ayo dong, ini tugas Dika dan Citra juga, kan, untuk announce The Great Day.

Bagi warga IKSA khususnya se-Jabodetabek dan sekitarnya, sebaiknya jangan bikin acara sendiri pada tanggal 30 September 2009 nanti, siapa tahu ada ulêm-ulêm. Barangkali kita juga ada kesempatan rubungan Mélu nyêngkuyung, bahkan mangayubagya. Muga-muga lancar, bêrkah, slamêt! Lihat tuh! Masa gambar yang tadinya berempat menjadi bertiga! Paling nggak jadi empat lagi! Eh, dimana sih lokasi Jati Asih. Yang jelas bukan Kramat Jati – Tu Ds.

Review Kegiatan

Salam hangat,

untuk moderator blog, saya punya usul, bagaimana jika setiap ada arisan, acara pernikahan atau acara kumpul-kumpul keluarga diberikan review di blog ini juga dilengkapi dengan foto2. untuk kami yg berada jauh dari Jakarta/pulau jawa setidaknya bisa sedikit melepas kangen dan bisa mengetahui update2 terbaru dari keluarga besar IKSA. Semoga usulan saya bisa direalisasikan dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahmi.

Salam,
-Rio-

2009 Juni 29 12:00

Jumat, 26 Juni 2009

MENGENANG

Tanggal 21 Juni 2009, bertepatan dengan tanggal wafatnya Éyang /Éyang Buyut/Canggah Sêrkini Atmosumarto. Beliau wafat pada hari Slasa Pahing, 21 Juni 1970. Tanggal lahir, tidak saya ketahui; yang diketahui adalah catatan hari pernikahan beliau dengan Éyang /Éyang Buyut/Canggah Sudiwan Atmosumarto, yakni pada tanggal 1 Desember 1925.

Inset, gambar beliau tatkala menjenguk keluarga Utojo Martosancoko di Jatinegara (Warung Asem) tahun 1968. (Keluarga Sudiwan Atmosumarto, ed. 2, 2003 hal. 43) Maaf saya tidak ingat kapan persisnya. Saya hapal betul, beliau duduk di kursi malas dari rotan. Tidak ketinggalan kinangnya. Beliau mempunyai kebiasaan – sebagaimana orang jamannya - mengunyah sirh (nginang). Campuran antara daun sirih, gambir, buah pinang, kapur dan tembakau. Mereka yang melakukannya, rata giginya sangat kuat. Tidak gampang ompong. Tapi tidak secermerlang di iklan pasta gigi!

. . . Anak pertama, Soediro (1) pada tanggal 29 April 1929. Anak terakhir, Siti Rahayu (11) lahir 23 Desember 1953. Usia 15 tahun simbok sudah menyusui, ngêmban bocah 11 orang! Begitu susul-menyusul dalam rentang waktu hampir 24 tahun.

. . . Ngêmban bocah, (kata kerja) dari kata (ng)êmban yang artinya menyandang beban dengan kain pada sebelah kiri atau kanan, bagian depan badan. Biasanya dilakukan oleh orang perempuan. Kain penyandang dililitkan dan tersangkut pada bahu atau pundhak (bahu) si pembawa. Bocah berarti anak. Jadi, ngêmban bocah berarti : (1) Menyandang atau membawa anak dengan cara di-êmban. (2) Ungkapan ngêmban bocah juga diartikan mempunyai anak. Dengan cara demikian, seorang ibu dapat menyusui seorang bayi atau anak kecil, sekaligus melakukan kegiatan ringan. Kata ngêmban dipakai untuk menunjukkan perlakuan orang tua, khususnya seorang ibu yang melindungi (care and protect) anaknya . . . (Péngêtan, Turipto Danusumarto, Jakarta 2004, hal 3)

Sabtu, 13 Juni 2009

DOKUMENTASI

Pawon Gêndhèng
Membuat genteng (gêndhèng), telah menjadi tradisi pencaharian wargaTinggarwangi sejak lama.
Sumber bahan baku dari tanah-tanah kosong di desa, serta lapisan atas tanah sawah yang sudah kurang subur. Pasir dari sungai Tajum. Konsumen sampai mencapai bagian timur Jawa Barat, diangkut truck, gerobag dan perahu menyusuri sungai Tajum sungai Serayu, laut selatan, masuk sungai Donan di perbatasan Cilacap - Jawa Barat. Kini sudah mulai hilang.

Éyang Maryati (3) dan Éyang K. Kartoatmadja adalah pengusaha ulet bidang pembuatan, pembakaran dan penjualan serta distribusi genteng. Gambar lama ini menunjukkan pawon (tungku) pembakaran genteng. Yang mejeng sih, adik-adiknya, anak cucu dan tetangga. Gambar diambil sekitar tahun 1969-1970. Masih jaman foto hitam putih. Masa itu, bisnis genteng dengan memiliki tungku pembakaran, sudah termasuk golongan menengah. Bisakah kalian mengenali siapa mereka?

Jumat, 12 Juni 2009

Mata Uang Lama


Mata uang Indonesia adalah Rupiah (simbolnya Rp). Satu rupiah terdiri atas 100 sen. Pernah melihat dan menggunakan uang satu rupiah? Tahun 1962, satu dollar Amerika nilainva sekitar Rp 95,00. Sekarang ?

Bagian atas, tampak depan uang kertas senilai Rp 2,50 atau satu ringgit emisi tahun 1960.. Orang-oarg Tinggarwangi waktu itu menyebut karo tengah gélo (dua setengah rupiah). Di baliknya, tertera peringatan dalam ejaan Suwandi, tertulis : Barangsiapa meniru atau memalsukan uang kertas dan barangsiapa mengeluarkan dengan sengadja atau menjimpan uang kertas tiruan atau uang kertas jang dipalsukan akan dituntut dimuka hakim. Sekarang, mata uang kertas kita tidak ada peringatan seperti itu. Jadi, si pemalsu makin tidak takut?

Gambar bawah, salah satu sisi mata uang logam benggol, dibesarkan 250%. Satu benggol adalah 2,5 sen. (Rp 0,025) Tertera aksara Latin di sisi depan, juga ada aksara Arab dan aksara Jawa, yang berbunyi sapara patang puluh rupiyah. Tidak menyebut dua setengah sen, tetapi memakai sebutan seperempat puluh (1/40) rupiah.

Selain informasi grafis berupa gambar, simbol, aksara dan angka, para perancang mata uang juga sudah mempertimbangkan bahan, berat, guratan, maupun warna. Tidak semata-maia keamanan dari tindak pemalsuan, tetapi rnemudahkan pengenalan bagi semua orang; tuna netra, tuna wicara dan tuna-tuna lain termasuk tuna karya.

Kalian warga IKSA, punya koleksi mata uang apa? Dolar Amerika, SIngapore, ringgit Malaysia, rupee India, yen Japeng (¥), £ Inggris, dll. Hallo, yang di Jerman, Abu Dabi dan lain-lain, tolong dong ceriterakan tentang mata uang. Uangnya tidak usah. Mata uang Perancis desainnya cantik sekali, lho!. Entry ini buat ngrame-ngramein, kok.